THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 23 April 2010

Coffee Shop di Yogyakarta, dari Sekedar Nongkrong sampai Nonton Film Indie

Sedikit kafein dalam secangkir kopi memang teman yang paling tepat untuk melewatkan sore dan malam, baik dalam kesendirian ataupun keramaian. Karenanya, menikmati kopi di cafe-cafe yang ada di Yogyakarta tentu menjadi agenda wisata yang mengasyikkan. Sambil menikmatinya, anda bisa mengenal lebih dekat Yogyakarta lewat komunitas-komunitas yang nongkrong di dalamnya.

Terdapat beragam konsep cafe, mulai dari yang masih dekat dengan konsep awal hingga cafe yang telah menyesuaikan diri dengan budaya Yogyakarta kekinian. Menu kopinya pun beragam, ada menu klasik espresso hingga kopi khas Indonesia seperti Jawa, Aceh, dan Toraja. Di cafe-cafe itu, berdiam komunitas penwggerak seni, pecinta buku hingga komunitas cyber seperti bloggers dan gamers.

Anda yang gemar membaca dan berinteraksi dengan para pecinta buku bisa mengunjungi Deket Rumah Cafe yang terletak di Sagan serta Coffee Break Cafe yang berlokasi di di Jalan Kaliurang. Beragam buku dengan berbagai tema, mulai dari bacaan ringan seperti komik hingga buku yang mengusung tema filsafat bisa didapatkan di kafe itu sehingga akan memuaskan hasrat membaca anda.

Di Deket Rumah, anda bisa membaca buku-buku sastra yang dikarang oleh penulis lokal maupun manca. Ada buku karya penulis Indonesia legendaris Sutan Takdir Alisjahbana, Pramoedya Ananta Toer dan N.H Dini hingga penulis peraih Nobel Sastra seperti Milan Kundera, Nawal el Sadaawi dan Umberto Eco. Beberapa buku bahkan bisa disewa dengan persyaratan tertentu.

Jika ingin menikmati kopi sambil mengenal lebih dekat Yogyakarta lewat karya para senimannya, anda bisa mengunjungi Via-Via Cafe yang terletak di Prawirotaman, V-Art Gallery and Cafe yang ada di Jalan Solo dan Djendelo Cafe yang berlokasi di ujung utara Jalan Gejayan. Kafe-kafe itu berfungsi ganda, selain sebagai tempat menikmati kopi juga sebagai ruang pameran seni.

Beberapa pameran pernah diadakan di kafe tersebut, misalnya Pameran Lukisan Pesawat Tempur yang diadakan pada November 2006 lalu di Via-Via Cafe. Di Djendelo Cafe juga sering diadakan berbagai macam pameran lukisan, begitu juga di V-Art Galery yang sering menggelar pemutaran video yang digarap oleh seniman Yogyakarta.

Kemudahan berselancar di dunia maya dan berinteraksi dengan para anggota komunitas cyber adalah tawaran lain yang diusung Lor Kali Cafe yang terletak di dekat Jalan Gejayan dan Kedai Kopi yang ada di Selokan Mataram. Lewat fasilitas komputer yang tersambung jaringan internet ataupun fasilitas hotspot, di Kedai Kopi anda bisa berselancar di dunia maya secara gratis.

Bila lebih suka menggunakan jaringan internet untuk bermain game, anda bisa mendatangi Empire yang berada di ujung utara Jalan Gejayan. Tempat yang baru saja dibuka ini telah menjadi salah satu pusat kegiatan para gamers di Yogyakarta. Selain itu, tempat ini juga menyediakan kafe nyaman yang cocok untuk beristirahat sejenak kala lelah bermain.

Meski tak mau menjuluki dirinya coffee shop, Kinoki yang terletak di Jalan Suroto Kotabaru juga menyajikan beragam menu kopi dan suasana open space yang nyaman. Selain memanjakan anda dengan kopi, tempat yang bermotto 'bukan bioskop, bukan coffee shop' itu juga menjadi tempat berkumpul para seniman Yogyakarta yang bergerak di bidang perfilman.

Setiap hari Kinoki menyuguhkan film-film menarik, mulai yang telah memenangkan berbagai festival film hingga film-film indie yang digarap oleh sineas-sineas muda berbakat Indonesia. Selain itu, Kinoki kadang juga menjadi tempat menggelar pembacaan cerita pendek, puisi, obrolan ringan dan bahkan peragaan busana.

Umumnya, kafe-kafe di Yogyakarta buka mulai pukul 17.00 WIB, namun banyak pula yang buka dari siang hari. Kedai Kopi dan Coffe Break adalah beberapa kafe yang buka mulai siang hari, sekitar pukul 10.00 - 24.00 WIB. Sementara Kinoki dan Djendelo Cafe baru mulai buka pada pukul 17.00 dan mulai memutar film sekitar pukul 19.30 WIB.

Boko Sunrise, Melihat Matahari Terbit dari Puncak Bukit Tugel


Telah banyak orang mengunjungi Istana Ratu Boko yang semula bernama Abhayagiri Vihara, sebuah istana yang berdasarkan artinya berada di bukit penuh kedamaian. Namun, sedikit saja yang pernah merasakan kenikmatan berjalan dari lokasi istana ini dan trekking menyusuri bukit Boko pada dini hari dan menyaksikan fajar menyingsing di ufuk timur. YogYES mengajak anda menikmatinya untuk merayakan datangnya fajar baru di awal tahun.

Untuk menikmatinya, anda bisa mendaftar sebagai peserta Boko Trekking di Taman Wisata Candi. Sekali mendaftar, anda mendapatkan paket wisata berupa keliling Istana Ratu Boko, menikmati pemandangan senja di Plasa Andrawina (salah satu bangsal istana), bermalam dalam tenda dan trekking menyusuri bukit Boko melihat pemandangan matahari terbit serta melihat candi-candi di kompleks Ratu Boko. Tentu sebuah paket wisata menyenangkan di akhir tahun.

Perjalanan paling menarik, yaitu trekking untuk kemudian menikmati pemandangan matahari terbit, biasanya dimulai sekitar pukul 3 dini hari. Waktu yang sangat tepat untuk memulai perjalanan melihat fajar di awal tahun karena pasti di jam-jam sebelumnya anda akan lebih disibukkan dengan ritual meniup terompet sebagai pertanda tahun baru telah tiba. Pastikan kondisi fisik anda cukup mampu untuk berjalan setelah begadang semalam.

Medan menuju Bukit Tugel, tempat anda akan menikmati salah satu fajar terindah, sebenarnya tidak begitu sulit sehingga anda tak perlu merasa khawatir. Di samping itu, pihak penyelenggara tour telah menyediakan pemandu sehingga akan memudahkan petualangan anda yang baru pertama mendaki bukit. Namun demikian, beberapa peralatan pribadi seperti baju lapangan, helm, sepatu gunung, senter dan obat-obatan tetap perlu disiapkan.

Selama perjalanan menuju Bukit Tugel, anda memang kurang dapat melihat panorama alam sekitar karena hari masih gelap, namun anda dapat mendengar musik alam yang syahdu. Jika peka, anda bahkan dapat mengetahui saat musik alam itu mulai berganti menjelang pagi tiba, suara serangga tanah dan burung malam yang semula mendominasi digantikan oleh kok ayam, suara burung gereja dan sedikit keramaian yang ditimbulkan oleh aktivitas warga sekitar.

Perjalanan menuju Bukit Tugel melelahkan akan berakhir saat menjelang fajar sehingga anda dapat beristirahat sejenak untuk menunggu sang mentari menampakkan diri. Sambil duduk, menikmati kopi atau teh hangat yang dibawa dari tenda dan bercakap dengan teman tentu akan menyenangkan. Berbicara tentang rencana satu tahun ke depan dalam hidup masing-masing dan membuka diri terhadap masukan tentu menjadi sangat berarti.

Panorama langit mengagumkan akan tampak saat menunggu fajar tiba. Warna hitam malam akan tergantikan dengan gradasi warna kuning ke merah. Semakin lama, warna kuning akan semakin dominan menandakan matahari sudah mulai tinggi. Bila matahari telah benar-benar menghiasi pagi, maka warna langit yang semula hitam akan berganti biru dengan dihiasi awan berwarna putih. Bila anda membawa kamera, tentu menyenangkan bisa merekam setiap perubahan itu.

Begitu matahari telah terlihat bulat di ujung timur, barulah anda bisa menyaksikan pemandangan alam sekitar Bukit Tugel yang tak kalah mengagumkan. Menatap ke arah utara, anda bisa melihat Gunung Merapi yang berdiri kokoh di utara dengan bentukan serupa asap putih dari puncak gunungnya. Masih di arah utara, anda juga bisa melihat kegagahan Candi Prambanan yang menjadi candi Hindu tercantik.

Di arah lain, anda bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta, persawahan dan pedusunan di sekitar bukit itu, beberapa candi yang terletak lebih di bawah, dan pemandangan menarik lainnya. Anda juga dibebaskan untuk menelusuri setiap sudut di Bukit Tugel itu. Setelah itu, anda akan berjalan pulang ke lokasi menginap semalam sambil menikmati pemandangan di kanan kiri trek menuju bukit Tugel.

Senin, 19 April 2010

Kraton Jogja

Kraton ( istana )Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya.Pada tahun 1955 terjadilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta . Kraton Yogyakarta berdiri megah menghadap ke arah utara dengan halaman depan berupa alun- alun ( lapangan ) yang dimasa lalu dipergunakan sbg tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat. Pada tepi sebelah selatan Alun- alun Utara , terdapat serambi depan istana yang lazim disebut Pagelaran. Ditempat ini Sri Sultan, kerabat istana dan para pejabat pemerintah Kraton menyaksikan latihan para prajurit atau beberapa upacara adat yang diselenggarakan di alun - alun utara.

Dihalaman lebih dalam yang tanahnya sengaja dibuat tinggi ( sehingga disebut Siti Hinggil ), terdapat balairung istana yang disebut bangsal Manguntur Tangkil. Ditempat ini para wisatawan dapat menyaksikan situasi persidangan pemerintahan Kraton jaman dulu, yang diperagakan oleh boneka - boneka lengkap dengan pakaian kebesaran. Kraton sebagai pusat pemerintahan dan Kraton sbg tempat tinggal Sri Sultan Hamengku buwono beserta kerabat istana, dipisahkan oleh halaman dalam depan yang disebut Kemandungan utara atau halaman Keben, karena disini tumbuh pohon yang dalam tahun 1986 dinyatakan Pemerintah Indonesia sbg lambing perdamaian , dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional.

Didalam lingkungan Kraton sebelah dalam terdapat halaman Sri Manganti dengan regol ( gapuro ) Danapratopo yang dijaga sepasang Dwarapala : Cingkarabala dan Bala Upata, Bangsal Traju Mas, Bangsal Sri Manganti yang kini dipergunakan untuk menyimpan beberapa perangkat gamelan antik dan dari masa silam, yang memiliki laras merdu sewaktu diperdengarkan suaranya. Didalam halam Inti yang terletak lebih kedalam,para wisatawan dapat menyaksikan gedung Kuning yang merupakan gedung tempat Sri Sultan beradu, bangsal Prabayekso. Bangsal manis, tempat Sri Sultan menjamu tamu - tamunya, lingkungan Kasatriyan sbg tempat tinggal putera ; putera Sri Sultan yang belum menikah. Tempat terakhir ini terlarang bagi kunjungan wisatawan.

Kraton merupakan sumber pancaran seni budaya jawa yang dapat disaksikan melalui keindahan arsitektur dengan ornamen- ornamennya yang mempesonakan. Setiap hari Karaton terbuka untuk kunjungan wisatawan mulai pukul 08.30 hingga pukul 13.00, kecuali hari Jum;at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00.

Kawasan Wisata Pantai Parangtritis

Sejak zaman dahulu, komplek pantai Parangtritis telah terkenal, tidak saja sebagai kawasan rekreasi pantai, tetapi juga terkenal sebagai tempat yang memiliki banyak peninggalan sejarah, khususnya yang berkaitan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul atau Ratu Penguasa Laut Selatan.


Kompleks Parangtritis terletak 27 kilometer dari Yogyakarta lewat Kretek. Untuk mencapai kawasan ini, para pengunjung dapat menempuh salah satu dari dua jalur jalan:


Jalur jalan pertama :
Dari terminal Umbulharjo melalui Pojok Beteng wetan (tenggara) Kraton Yogyakarta lurus ke selatan sampai ke Obyek Wisata Kompleks Pantai Parangtritis.


Jalur jalan kedua :
Dari terminal Umbulharjo melalui daerah Imogiri (makam Raja - Raja Mataram) dan desa Siluk dengan jalan naik turun sambil menikmati pemandangan yang indah, hingga sampai ke Kompleks Obyek Wisata Pantai Parangtritis.
Jalur kedua ini berjarak ± 10 km lebih jauh dibandingkan dengan jalur pertama menggunakan Bus Umum dengan trayek tetap.

Sebagai suatu kawasan wisata alam yang sekaligus juga merupakan kawasan wisata budaya dan ziarah, Parangtritis telah memperlengkapi diri dengan penginapan - penginapan dan rumah - rumah makan, serta berbagai fasilitas rekreasi seperti kolam pemandian, bumi perkemahan dan lain sebagainya.
Obyek wisata yang dapat dikunjungi di kawasan ini antara lain :
Parang Wedang :
Suatu sumber mata air panas bermineral yang tidak pernah kering sepanjang tahun, yang sering digunakan pula untuk menyembuhkan penyakit kulit.

Parang Kusuma :
Tempat ini dianggap sebagi tempat yang paling sakral dari seluruh kompleks kawasan Parangtritis, dimana menurut kepercayaan Jawa, merupakan tempat pertemuan antara Raja - raja yang memerintah kerajaan Yogyakarta dengan kanjeng Ratu Kidul. Pertemuan ini terjadi pada sebuah batuan yang merupakan sisa kegiatanvulkanis dimasa silam (post volcanic) yang merupakan suatu batuan intrusi di tengah hamparan pasir pantai, dengan nama watu gilang dan fasilitas yang ada seperti penginapan, Masjid, Rumah makan dan Toilet.

Dataran tinggi Gambirowati :
Dataran tinggi Gambirowati merupakan salah satu tempat yang memiliki pemandangan indah ke kompleks pantai Parangtritis dan ke laut lepas di sekitarnya. Tempat ini dapat dicapai dengan menyusur jalan dari Parangtritis ke arah Panggang dan Goa Langse, yang merupakan jalan menanjak ke perbukitan.
Bukit Gupit yang ada di jalan ini, sering dipergunakan sebagai tempat start/meloncat para pecinta olahraga layang gantung (gantole).
Goa Langse :
Merupakan goa pertapaan yang berwujud suatu lorong di bawah batu karang, yang mulutnya menghadap kearah laut lepas. Goa ini dapat dicapai dengan menuruni batu karang yang terjal, dan berbatuan melalui tangga dari tali atau bambu, untuk itu diperlukan suatu keberanian yang prima dan ketrampilan khusus.

Pada saat air laut pasang, mulut goa ini tertutup oleh air laut, sehingga untuk masuk atau keluar dari goa, hanya dapat dilakukan pada saat air laut surut.

Makam Syeh Bela - Belu :
Terdapat di bukit Pemancingan, yang dianggap sebagai makam yang keramat. Makam ini banyak dikunjungi oleh para peziarah, utamanya pada hari Jum’at dan Selasa Kliwon.

Puncak Merapi

Gunung Merapi, merupakan satu - satunya gunung berapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya lebih kurang 30 kilometer, disebelah Utara kota Yogyakarta dan puncaknya berupa dataran pasir yang tidak rata, seluas lebih kurang 4 hektar, dengan beberapa lubang kepundan yang satu-dua diantaranya selalu mengepulkan asap tebal, menandai gunung Merapi masih aktif bekerja.

Bilamana gunung ini menunjukkan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau kehitam - hitaman mengepul keatas, yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilamana gunung itu dalam keadaan “ tenang ”, pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remaja yang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olah raga mendaki gunung untuk menaklukkan puncaknya.

Untuk mencapai puncaknya, dapat ditempuh dua arah jalan. Jalan yang pertama, melalui Desa Kinahrejo yang terletak lebih kurang 2 kilometer di sebelah Timur tempat rekreasi Kaliurang. Jarak antara desa Kinahrejo ke puncak Gunung Merapi hanya sekitar 9 kilometer, namun jarak ini biasanya ditempuh dalam waktu 10 jam, mengingat medan pendakiannya cukup sulit. Namun justru medan yang sulit ini yang menarik bagi para remaja, karena rata - rata semangat juang mereka demikian tinggi, hingga segala faktor kesulitan itu dianggapnya sebagai tantangan untuk dikalahkannya. Jalan yang lebih mudah, melalui daerah Selo Kabupaten Boyolali yang terletak diantara gunung Merapi dengan gunung Merbabu, di propinsi Jawa Tengah. Daerah Selo ini dapat dicapai dari Yogyakarta dengan kendaraan bus sampai Kartosuro, selanjutnya menuju Boyolali. Di waktu sore hari, kendaraan kejurusan ini agak sulit, hingga disarankan agar jika ingin pergi ke daerah Selo supaya diusahakan sebelum pukul 13.00.

Disarankan pula untuk melakukan pendakian ke puncak Merapi ini dengan menggunakan jasa pemandu atau penunjuk jalan. Bilamana terpaksa harus menginap, para pemandu ini menyediakan rumahnya untuk keperluan tersebut.

Bagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak, masih dapat mengagumi keindahan gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah Tenggara kota Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 kilometer di sebelah Barat kota Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamat Gunung Merapi di Plawangan, Kaliurang.